Jika dulu identitas anak muda sering melekat kuat pada satu subkultur punk, grunge, atau emo. Generasi Z justru hidup di zaman di mana identitas bisa berganti secepat swipe di layar. Mereka suka mengkotak-kotakkan estetika hidup lewat label core yang tak terhitung jumlahnya cottagecore, balletcore, blokecore, coquette, grunge revival, hingga grandpacore. Bagi Gen Z, estetika bukan sekadar gaya berpakaian, tapi juga cara merangkai suasana hati, playlist, feed media sosial, bahkan pilihan kopi yang diminum hari itu.
Fenomena ini berakar dari budaya digital yang serba cepat. Algoritme media sosial mendorong tren mikro (micro-trends) yang silih berganti, sementara bahasa “-core” memudahkan Gen Z memberi nama pada suasana hati dan gaya hidup mereka. Akhirnya, mereka bisa dengan mudah “pindah kotak” hari ini tampil coquette dengan pita pastel dan renda, besok tampil grunge dengan jaket oversized dan boots lusuh. Alih-alih dianggap plinplan, fleksibilitas ini justru menjadi bentuk kebebasan baru identitas sebagai permainan, bukan sekadar label permanen.
Menariknya, pola mengkotak-kotakkan estetika juga tampak jelas di Indonesia. Tahun 2025, sejumlah gaya dan tren marak di kalangan Gen Z Tanah Air
1. Hipdut (Hip-hop Dangdut)
Subkultur lokal yang lahir dari musik campuran hip-hop dan dangdut. Gayanya khas: celana gombrong, sneakers, beanie, dan kaos oversized. Estetika Hipdut bukan hanya soal musik, tapi juga pernyataan identitas jalanan yang playful dan membumi.
2. Grandpacore Nusantara
Sweater rajut, celana longgar, kemeja batik vintage Gen Z Indonesia memberi sentuhan lokal pada tren global grandpacore. Mereka menjahit ulang gaya “retro kakek” dengan nuansa hangat dan dekat dengan budaya sendiri.
3. YONO (You Only Need One)
Beralih dari gaya YOLO yang serba konsumtif, Gen Z Indonesia mengangkat YONO sebagai estetika hidup minimalis, cukup satu barang esensial yang berkualitas, tidak perlu membeli berlebihan. Ini bukan sekadar tren konsumsi, tapi cara hidup yang terasa estetik sekaligus ramah lingkungan.
4. Streetwear Lokal dengan Twist Budaya
Brand seperti Roughneck, Thanksinsomnia, hingga Sejauh Mata Memandang makin dilirik. Hoodie dengan motif nusantara, sneakers lokal, dan kaos grafis menjadi simbol identitas modern, urban, tapi tetap rooted pada budaya Indonesia.
5. Digital Minimalism & Aesthetic Branding
Feed Instagram atau TikTok rapi dengan warna netral, flatlay produk, hingga journaling digital dengan font estetik. Bagi Gen Z, mengatur tampilan layar sama pentingnya dengan berpakaian semua harus on vibe.
6. Coquette dan Balletcore ala Tropis
Di tengah panasnya iklim Indonesia, pita rambut, rok mini, atau sepatu Mary Jane dipadukan dengan bahan tipis dan nyaman. Hasilnya estetika coquette yang lebih ringan, tetap manis tapi adaptif dengan iklim tropis.
Pada akhirnya, Gen Z Indonesia sedang menulis ulang makna identitas lewat estetika. Dengan mengkotak-kotakkan gaya hidup dalam label core atau vibe, mereka membangun bahasa baru yang mudah dipahami lintas komunitas: cukup sebut satu kata coquette, hipdut, YONO dan seluruh mood, nilai, serta gaya hidup tersampaikan.
Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan cermin cara generasi muda bernegosiasi dengan identitas di tengah dunia digital yang serba cepat. Mereka mungkin sering berpindah kotak, tapi justru di situlah letak kekuatan mereka: fleksibel, kreatif, dan selalu menemukan cara baru untuk merayakan diri.
0 Komentar