Pemenang Palme d’Or 2018 Kembali dengan Karya Metaforis

 

1.    

Sources : IMDB | Pinterest

Film: Monster (怪物)
Sutradara: Hirokazu Koreeda
Penulis Skenario: Yuji Sakamoto
Musik: Ryuichi Sakamoto

Saya mengenal Monster karena banyak orang membicarakannya, terutama karena film ini menyinggung elemen “rainbow” di dalamnya. Tidak sedikit yang kurang menyukai alur yang ditawarkan Hirokazu Koreeda dan Yuji Sakamoto yang dianggap terlalu lambat dan hati-hati. Saya sendiri biasanya kesulitan merasa nyaman dengan tempo lambat, namun berbeda dengan Monster. Setiap fasenya justru sangat nyaman untuk dinikmati. Saya seakan diajak untuk menjadi bagian dari setiap karakter yang hadir, ikut merasakan kecemasan dan ketidaknyamanan yang mereka alami.

Menulis dan merepresentasikan hal seperti itu, menurut saya, sangatlah sulit. Lagi-lagi semua ini sangat subjektif karena setiap orang punya selera dan pandangan yang berbeda, dan saya sangat menghargai perbedaan tersebut. Namun dalam tulisan ini saya ingin membagikan analisis pribadi tentang mengapa saya sangat mencintai karya ini.

FESTIVAL FILM CANNES

Siapa yang tidak mengenal penghargaan prestisius ini. Para pembuat film dari seluruh dunia berlomba-lomba untuk bisa masuk nominasi. Yuji Sakamoto sendiri berhasil memenangkan Best Screenplay pada 2023. Banyak pengamat film berpendapat bahwa Yuji menang berkat teknik penulisan tiga perspektif yang ia gunakan. Selain itu, Monster juga masuk nominasi kategori Palme d’Or, meskipun akhirnya penghargaan tersebut dimenangkan oleh film Prancis Anatomy of a Fall.

EFEK RASHOMON

Saya merasakan kehadiran teknik ini setelah masuk ke babak kedua film. Dalam beberapa film, pergantian tokoh utama di tengah cerita sering terasa kasar, entah alasannya tidak jelas, potongan gambarnya patah, atau transisinya tidak enak. Tapi Monster berbeda, perubahan tokoh utama di tiap babaknya terasa mulus dan punya alasan yang jelas.
 Efek Rashomon tentu sudah akrab bagi penikmat sejarah film, di mana teknik multiperspektif ini pertama kali dipelopori oleh Akira Kurosawa dalam film Rashomon. Penonton diajak menebak siapa sebenarnya biang permasalahan. Kini teknik tersebut banyak digunakan dalam film detektif.

SHOW, DON’T TELL

Banyak film konvensional yang masih mengandalkan dialog untuk menyampaikan cerita atau pesan, padahal film punya banyak elemen lain yang bisa digunakan secara kreatif. Dalam Monster, banyak adegan yang hanya menggunakan visual untuk menyampaikan makna. Penonton diajak berpikir kreatif tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Misalnya, saat Saori melihat gambar Minato yang berserakan di dekat jendela yang terbuka gerakan cemas Saori menambah kesan mencekam dan menimbulkan banyak pertanyaan di benak kita.

METAFORA VISUAL

Penonton film festival pasti sudah akrab dengan hal ini: sering kali bingung dengan simbol-simbol yang ditampilkan. Karena itu, saya jarang bisa langsung memahami film festival hanya dengan sekali tonton. Biasanya butuh 2–3 kali untuk bisa menangkap maknanya. Tapi memang di situlah letak esensi seni.

Film ini menggunakan banyak gambar simbolik untuk menyampaikan makna yang lebih dalam. Wujud monster di sini merepresentasikan sisi “monster” dalam diri manusia terhadap orang lain.

PENDALAMAN KARAKTER

Saya cukup terkejut dengan bagaimana karakter-karakter di film ini dibangun. Di paruh pertama, penonton dibuat mengira bahwa antagonis utama adalah Pak Hori. Namun di paruh kedua, persepsi berubah: antagonis bergeser menjadi Saori, ibu Minato. Para pemain berhasil memainkan dinamika karakter ini dengan sangat baik. Dari film ini saya belajar bahwa prasangka bisa membunuh orang lain.

Membicarakan Monster sepertinya memang tidak akan ada habisnya. Saya bisa terus menuliskan kelebihannya sampai lelah sendiri. Film ini tayang global di Indonesia pada awal 2024. Biasanya film festival baru bisa dinikmati publik setahun kemudian itu pun banyak yang tidak beredar luas, mungkin demi menjaga eksklusivitasnya.

Saya sempat menyinggung bahwa film ini juga mengangkat isu sosial tentang standar masyarakat, rasa penolakan dalam diri karena tidak sesuai dengan apa yang dianggap “normal” dalam strata sosial. Minato digambarkan sebagai anak laki-laki yang tampak kuat, tapi sebenarnya rapuh secara fisik, takut gelap, dan minder karena takut akan opini teman-temannya. Sebaliknya, Yori yang bertubuh kecil dan tampak lemah justru berani bersikap sesuai keyakinannya, meski sering dibully karena dianggap berbeda suka bermain dengan perempuan dan menyukai bunga.

Konflik juga muncul dari para karakter pendukung, yang tidak benar-benar menemukan resolusi, hanya bisa dijalani dengan sesekali mengernyit menahan sakit. Tidak ada karakter yang benar-benar jahat dalam cerita ini 


dan justru itulah yang membuatnya istimewa. Yang paling jahat sebenarnya adalah prasangka: spekulasi tentang sesuatu yang tidak kita ketahui atau rasakan sendiri.

Saya pribadi merasa sangat emosional saat menonton film ini. Salah satu kalimat yang paling menusuk adalah “Kebahagiaan adalah ketika semua orang bisa merasakannya.”

 

 

Posting Komentar

0 Komentar