Malam itu, syuting akhirnya selesai. Monitor menampilkan gambar terakhir, semua kru bertepuk tangan, dan satu kata terucap lantang: “Bungkus!” Suasana di set berubah lega, tawa dan sorak bergantian terdengar. Namun, bagi Rakha, rasa lega itu hadir bersamaan dengan sesuatu yang jauh lebih dalam, air mata.
“Gua coba menjauh sebentar dari set. Tiba-tiba cameramen gua nanya, ‘Lu gapapa, kan?’ Gua jawab, ‘Gapapa kok.’ Tapi habis itu nangis. Dia langsung meluk,” kenangnya. Itu bukan tangisan karena lelah semata, melainkan ledakan emosi setelah melewati perjalanan panjang yang penuh rintangan.
Ketika pertama kali memutuskan membuat film, Rakha nyaris sendirian. Ia tidak punya kru berpengalaman yang bisa langsung dipercaya. Timnya masih mentah, sebagian bahkan belum pernah menyentuh kamera atau menulis naskah. “Gua ngajarin mereka dari nol kamera, penulisan, lighting, makeup. Capeknya dobel, tapi gua anggap itu tanggung jawab,” ujarnya.
Hari-hari awal produksi terasa berat. Kru sering bingung, salah langkah, bahkan ragu apakah mereka bisa menyelesaikan film. Namun Rakha tidak pernah menegur dengan ego. Ia memilih sabar, menganggap setiap kesalahan sebagai bagian dari proses belajar. “Mereka bukan beban, tapi amanah,” katanya. Matanya berbinar ketika mengucapkannya. Suaranya lirih, tapi gesturnya lembut, penuh keyakinan yang kukuh.
Pelan-pelan, tim itu mulai tumbuh. Yang awalnya awam, perlahan terbiasa. Satu per satu berhasil menjalankan tugasnya. Rakha merasakan kebanggaan tersendiri melihat perkembangan itu. “Nggak ada balasan apa-apa, tapi ketika mereka bisa, bahkan lebih jago gua seneng,” ujarnya, tersenyum tipis.
Jatuh Bangun Melawan Keterbatasan
Namun membangun tim hanyalah satu bagian dari tantangan besar. Sebagai filmmaker indie, masalah dana hampir selalu menghantui. Investor kerap memangkas anggaran hingga separuh dari RAB yang sudah disusun dengan matang. “Kalau budget dipotong, otomatis kualitas ikut terdampak. Gua bilang, hasil film nggak bakal sebagus yang dijanjikan,” katanya.
Keterbatasan itu memaksanya mencari cara lain. Rakha belajar berimprovisasi, mengutak-atik konsep agar tetap layak ditonton meski fasilitas minim. Alam pun sering menguji. Pernah suatu adegan tiba-tiba diguyur hujan deras. Setting siang yang sudah dipersiapkan matang terpaksa diubah menjadi malam. Dialog tidak diutak-atik, tapi atmosfernya bergeser drastis. “Gua berusaha tetap jaga estetika,” ujarnya.
Tak hanya soal teknis, interaksi dengan penulis naskah juga penuh tantangan. “Menjadi sutradara film indie itu tricky. Karena harus berhubungan langsung sama yang punya cerita. Kalau script writer-nya nggak cocok atau nggak seneng, itu bisa bikin kerjaan jadi susah.”
Dari pengalaman itu, Rakha menyadari satu hal penting: kreativitas bukan hanya merangkai adegan indah, tapi juga menemukan “cheat code” agar syuting tetap efisien. Keterbatasan waktu, dana, dan tenaga memaksanya berpikir di luar kebiasaan. Justru dari situ, ia belajar bahwa efisiensi bisa sama bernilainya dengan estetika.
Filosofi Penyutradaraan
Rakha mengenali dirinya sebagai tipe sutradara yang “memanjakan” aktor, tapi keras pada kru. Alasannya sederhana kamera hanya menampilkan hasil kerja sama mood aktor dan disiplin kru. Jika salah satunya goyah, film bisa runtuh.
“Posisi jelas, kerja sama, dan komunikasi adalah tiga pilar terpenting,” tegasnya. Ia ingin para kru disiplin, tapi ia juga tahu aktor butuh kenyamanan untuk menampilkan emosi terbaik. Bahkan ketika kelelahan menumpuk, ia tidak pernah menganggapnya sebagai beban. Baginya, itu adalah “seru capek”.
Dalam mencari ide, Ia tidak pernah membatasi sumber hanya dari satu tempat. Film-film yang ia tonton menjadi gudang referensi, baik dari segi visual, ritme, maupun cara bercerita. Kadang, hanya dari satu adegan kecil ia bisa tergerak untuk membangun narasi baru. “Film itu kan kayak percakapan lintas waktu dan lintas tempat. Kadang gua belajar bukan dari plot besarnya, tapi dari detail kecil yang orang lain suka anggap remeh,” ujarnya.
Selain dari layar, Rakha juga gemar menggali kisah dari lingkungannya. Cerita teman, obrolan warung kopi, bahkan curhatan sederhana bisa menjadi bahan baku yang ia olah menjadi karya. Ia percaya setiap orang menyimpan “film” mereka sendiri, dan tugas sutradara adalah menemukan cara untuk menayangkannya. “Kadang cerita yang kelihatannya sepele, kalau ditaruh di layar bisa nyentuh orang lebih dalam daripada drama yang terlalu dibuat-buat,” tambahnya.
Yang membuat Rakha berbeda, ia juga tidak menutup diri pada teknologi baru. AI, yang sering dipandang sebagai ancaman bagi kreativitas manusia, justru ia jadikan alat bantu. “Buat gua, AI itu asisten, bukan ancaman. Dia bisa kasih opsi, kasih alternatif, tapi keputusan akhir tetap ada di tangan manusia,” katanya. AI ia gunakan untuk eksplorasimisalnya menghasilkan visualisasi adegan, merancang mood board, atau bahkan sekadar mencari inspirasi untuk sudut pandang kamera yang berbeda. Baginya, AI hanyalah perpanjangan tangan dari imajinasi, bukan pengganti jiwa seorang sineas.
Rencana Masa Depan
Bagi Rakha, film indie bukan sekadar batu loncatan, melainkan fondasi. “Independen itu artinya berdiri sendiri tanpa harus ditopang orang lain. Ketika nggak ada yang nolongin, tapi lu bisa survive, itu baru independent,” ujarnya mantap. Prinsip itulah yang ia pegang erat sejak awal menapaki dunia film.
Visiotech. Awalnya hanya berupa tim kecil yang solid, tapi baginya ini lebih dari sekadar kumpulan orang ia melihatnya sebagai wadah generasi baru. Tempat anak-anak muda bisa berkreasi, menguji batas imajinasi, sekaligus menjadikan film sebagai ruang kerja yang nyata.
“Gua pengen Visiotech ini bukan cuma proyek kecil-kecilan. Harus bisa jadi lapangan kerja, harus jadi rumah yang serius,” katanya dengan keyakinan yang tebal. Ambisi itu bukan omong kosong. Rakha sudah merancang langkah-langkah jangka panjang agar Visiotech tidak hanya berkutat di film indie, tapi juga bertransformasi menjadi production house besar yang bisa menembus berbagai lini industri kreatif.
Salah satu mimpinya adalah membawa Visiotech masuk ke ranah televisi. Baginya, layar kaca tetap punya pengaruh luas, dan itu bisa menjadi medium lain untuk menjangkau audiens yang lebih beragam. Bahkan, ia tidak menutup kemungkinan merambah ke bidang-bidang lain di luar perfilman, selama masih sejalan dengan semangat kreativitas dan kolaborasi.
Ambisi Rakha terhadap Visiotech terdengar nekat. Dia memiliki energi seorang sutradara indie berani bermimpi, lalu pelan-pelan menjadikannya nyata.
0 Komentar