| Sources : IMDB |
1. Bayangkan sebuah bangsa di mana pemerintah menanamkan rasa takut, media menjadi alat propaganda, dan rakyat hanya dianggap angka dalam sistem. Kedengarannya familiar? Itulah dunia dalam film V for Vendetta (2005). Meski berlatar Inggris distopia fiktif, pesan yang dibawanya terasa sangat dekat dengan kenyataan politik kita hari ini terutama saat rakyat turun ke jalan menuntut keadilan di depan gedung DPR.
Film ini, disutradarai James McTeigue dan ditulis berdasar komik Alan Moore, bukan sekadar tontonan aksi penuh ledakan. Ia adalah kritik sosial, manifesto perlawanan, dan pengingat bahwa ide tidak bisa dibunuh. Di tengah maraknya aksi massa di Indonesia, V for Vendetta terasa relevan kembali.
Pemerintah, Ketakutan, dan Otoritarianisme
Dalam film, Inggris digambarkan dikuasai rezim totaliter yang mengendalikan hampir seluruh aspek kehidupan rakyat. Warga dipaksa tunduk lewat propaganda, sensor, dan ancaman kekerasan. Media tidak lagi berfungsi sebagai ruang demokratis, melainkan corong kekuasaan.
Apakah situasi ini terasa jauh dari Indonesia? Tidak sepenuhnya. Masyarakat kita mungkin tidak hidup dalam distopia fiksi, tetapi kegelisahan terhadap DPR, isu korupsi, dan kebijakan kontroversial kerap menimbulkan rasa bahwa suara rakyat tidak dihargai. Banyak orang merasa hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Film ini lalu menjadi metafora yang tajam otoritarianisme tidak harus berupa diktator tunggal, tapi bisa lahir dari lembaga yang abai terhadap rakyatnya.
Salah satu ikon terbesar dari V for Vendetta adalah topeng Guy Fawkes. Dalam cerita, V mengenakan topeng itu untuk menyembunyikan identitas sekaligus menjadi simbol perlawanan. Siapa pun bisa menjadi V, karena perjuangan lebih besar daripada satu orang.
Di dunia nyata, topeng ini melampaui film. Gerakan Anonymous, aksi Occupy Wall Street, hingga demonstrasi di Hong Kong dan Timur Tengah semuanya menggunakan topeng Guy Fawkes sebagai tanda solidaritas. Bahkan di beberapa aksi protes di Indonesia, topeng ini juga sempat terlihat.
Kenapa bisa sekuat itu? Karena topeng ini bukan sekadar benda, tetapi ide rakyat bisa bersatu, meski tak saling kenal, untuk menghadapi kekuasaan yang menindas. Identitas personal melebur dalam identitas kolektif. Inilah energi yang juga sering terasa dalam demo mahasiswa di depan DPR individu yang berbeda latar belakang, disatukan oleh satu kata : lawan.
Media, Propaganda
Dalam film, media televisi menjadi alat pemerintah untuk menakut-nakuti rakyat. Fakta dipelintir, kebenaran disembunyikan, dan narasi dikuasai elit berkuasa. Tujuannya untuk membuat rakyat takut dan pasif.
Narasi demo sering kali dibingkai media arus utama dengan perspektif penguasa, demonstran dituduh perusuh, aksi mahasiswa disebut mengganggu ketertiban, padahal di balik itu ada keresahan nyata yang ingin disampaikan.
Salah satu kutipan paling terkenal dari film ini Adalah : “Beneath this mask there is more than flesh. Beneath this mask there is an idea, and ideas are bulletproof.”
V bukanlah pahlawan tunggal. Ia hanyalah simbol. Bahkan kematiannya tidak penting, karena yang ia perjuangkan adalah sesuatu yang lebih besar yaitu kebebasan.
Di Indonesia, kita melihat hal yang mirip. Demo bukan soal satu figur, melainkan gerakan kolektif. Mahasiswa, buruh, aktivis, masyarakat sipil mereka tidak selalu punya satu tokoh tunggal. Tapi gagasan mereka tentang keadilan, transparansi, hak rakyat itulah yang membuat gerakan tetap hidup, bahkan jika aparat mencoba meredamnya.
Belajar dari V for Vendetta ?
Pertama, bahwa rakyat bisa kehilangan rasa takut ketika keadilan terus diabaikan. Ketakutan adalah senjata utama pemerintah otoriter, dan ketika rakyat sadar bahwa jumlah mereka lebih besar daripada elit di kursi kekuasaan, rasa takut itu runtuh.
Kedua, solidaritas adalah kunci. Film ini menekankan pentingnya kebersamaan, bahkan dalam perbedaan. Dalam demo, kita melihat mahasiswa dari berbagai kampus, buruh dari berbagai serikat, bahkan masyarakat biasa, bisa bersatu karena merasa ada sesuatu yang lebih penting daripada kepentingan individu.
Ketiga, ide lebih kuat dari kekerasan. Aparat bisa membubarkan massa, tapi gagasan tentang keadilan akan tetap hidup. Sama seperti dalam film, “ideas are bulletproof.”
V for Vendetta bukan hanya hiburan, tetapi pengingat. Bahwa demokrasi rapuh, bahwa kekuasaan bisa tergelincir jadi otoritarian, dan bahwa rakyat punya kekuatan untuk menolak.
Topeng Guy Fawkes mungkin hanyalah properti film, tapi semangat yang diwakilinya nyata. Ia hidup di jalanan, di poster, di teriakan, dan di hati orang-orang yang percaya bahwa keadilan adalah hak rakyat. Pada akhirnya, V for Vendetta bukan sekadar cerita fiksi, melainkan cermin yang memantulkan wajah kita sendiri.
Oke, aku bikin artikel feature populer yang membahas fenomena Gen Z mengkotak-kotakkan estetika hidup mereka sekaligus menyoroti style Gen Z Indonesia yang marak tahun 2025.
0 Komentar