| Sources : wikipedia | JPNN | @Ezra Simanjuntak |
Diskusi Seni
Jakarta - Helvy Tiana Rosa pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) yang sudah berdiri selama 26 tahun mengatakan, penyebab komunitas pecah ada tiga hal yang pertama uang, indeologi dan pilihan politik.
Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar kegiatan Diskusi Publik Komisi Simpul Seni dengan tema “Komunitas Seni sebagai Dasar Ekosistem Seni”. Kegiatan ini diselenggarakan DKJ dengan seri kesembilan di Teater Wahyu Sihombing, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Selasa (21/11).
Helvy mendirikan komunitas FLP karena ia prihatin, dan berpikir bagaimana kalau seorang anak-anak atau remaja-remaja lain seperti dirinya yang ingin menjadi seorang penulis, Helvy membuat sebuah komunitas non-profit dan ingin membangun budaya membaca lewat komunitas tersebut.
“Alhamdulilah, selama 26 tahun FLP ini saya sempat khawatir kalau saya tidak ada apakah FLP akan tetap berjalan, tapi yang sukses adalah karena kita mendelegasikan,” Kata Pendiri FLP Helvy Tiana Rosa.
Helvy menjelaskan, Indeologi di FLP menulis untuk mencerahkan diri sendiri dan orang lain juga bermanfaat ia juga bilang FLP sangat inklusif dan menghargai perbedaan agama.
FLP sekarang terdapat di 34 provinsi di Indonesia dan juga beberapa negara seperti Hongkong, Belanda, Perancis dan Mesir, fokus Helvy dari tahun 2002 2003 adalah FLP Hongkong karena rata-rata anggotanya adalah buruh migran yang berasal dari Indonesia.
Selain Helvy seri diskusi tersebut dihadiri oleh gitaris zi factor, penyelenggara acara The Rock Campus dan anggota gang Potlot Ezra Simanjuntak, Manajer Ruang Rupa Ajeng Nurul Aini, Sekretaris Dewan Kesenian DKI Jakarta Imam Hadi Purnomo dan moderator Sihar Ramses Sakti.
Drugs dan Potlot
Potlot merupakan sekumpulan anak-anak yang bermain musik rock, adanya gang Potlot ini adalah ketidaksengajaan dan semua kesuksesan didalamnya mengakibatkan masalah, ungkap Ezra.
Menurut Ezra Simanjuntak ada satu hal lagi yang menyebabkan komunitas terpecah yaitu drugs, ia mengungkapkan bahwa drugs membawa perubahan kepada sifat dan karakter, dan akibatnya tongkrongan Potlot terpecah.
Ezra sendiri kehilangan studio, rumah dan mobil karena drugs ia berucap kalau kesuksesan yang ia miliki hampir tidak ada gunanya.
Tetapi sisi positif nya Potlot membentuk label PT pertama dan sukses, walaupun awalnya tidak direncanakan itu membuktikan siapapun orangnya pasti bisa asalkan memiliki niat berkarya.
Di studio Indra keyborist Slank dan Ezra membuat 24 track list digital pertama di Indonesia yang disebut menabrak paradigma pada zaman itu.
Selain itu platform The Rock Campus didirikan Ezra sebagai bentuk pemberian kembali untuk penggemar dan komunitas, dan total band yang sudah tampil di sana sekitar 800 band mulai dari Edane, LOCO, Penerbang Rocket, Siksa Kubur, Elephant Kind, Dead Squad dan Burger Kill.
Ezra bertutur jika berbicara komunitas, pertama adalah motivasi sekira nya menjadi sebuat platform yang menghasilkan sebagai bisnis, mungkin itu tergantung dari kalian tetapi awalnya adalah memiliki tujuan dan motivasi. (FM)
Perkembangan Komunitas dan Ambisi Berkarya
Eksistensi Komunitas
Jakarta - Sekretaris dari Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Imam Hadi menyatakan jika dinas kebudayaan memiliki data sekitar 1.112 komunitas di Jakarta. Dari komunitas kontemporer maupun tradisional, dan paling terbanyak adalah Sanggar seni, lembaga kebudayaan, dan komunitas.
Hal itu di paparkan Hadi saat kegiatan Diskusi Publik Komisi Simpul Seni dengan tema “Komunitas Seni sebagai Dasar Ekosistem Seni” yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) seri kesembilan di Teater Wahyu Sihombing, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Selasa (21/11).
“Ada yang sifatnya informal bahkan ada yang hanya dalam sekedar bentuk chat grup whatsapp dan lain-lain. Tapi ada juga yang lebih formal yang mempunyai AD/ART, kemudian ada yang bahkan sampai jadi bahan hukum, mungkin punya kelengkapan administrasi yang lengkap.” ungkap Imam.
Dewan Kesenian Jakarta adalah komunitas ahli, selama ini Dewan Kesenian Jakarta telah menjadi kemitraan pemprov DKI Jakarta dan dinas kebudayaan dalam membangun dan mengembangkan kesenian di Jakarta. Keunikan dari komunitas di Jakarta yaitu para anggota komunitas bisa menjadi anggota komunitas lainnya.
“Dan yang pasti di semua komunitas harus ada yang menggerakkan, harus ada orang yang menjadi katalis.” Ucap Imam Hadi.
Perjalan Komunitas
RuangRupa berdiri pada tahun 2000 oleh beberapa seniman, mahasiswa, orang-orang dari seni rupa maupun dari orang yang latar belakangnya bukan dari seni rupa.
Ajeng Nurul Aini adalah Manajer komunitas RuangRupa, ia bergabung pada 2009 karena terlibat dalam projek RuangRupa bernama “Ok Video” yang berlokasi di Tebet.
pada tahun 2009 RuangRupa memiliki banyak isu, Ajeng berpikir bagaimana caranya agar sebuah komunitas tetap bertahan. “Salah satu caranya tidak bergantung pada sumber penghasilan utamanya” tutur Ajeng.
Pada tahun 2015 dan 2016 RuangRupa pindah ke area di Pancoran bernama Gudang Sarinah Ekosistem. Ajeng mengatakan jika RuangRupa memiliki tiga organisasi ruang, dari ruang bersama, ruang grafis hura-hura dan serum, mereka semua pindah secara fisik da ruang bekerja maupun berkreasi.
Ajeng mengatakan jika mereka sepakat untuk berpindah ke daerah Selatan lagi, di Jagakarsa pada tahun 2018.
RuangRupa memutuskan untuk membangun Good School Study Kolektif salah satu platform yang fokus ke pendidikan yang masih melekat dengan praktek dari RuangRupa, yaitu Kolektif Seni.
“Jadi apa yang kita miliki itu bisa kita tuangkan lagi ke dalam satu proses,semacam sekolah alternatif” Tutur Ajeng.
0 Komentar